|
| Sumber gambar: Getty Images
Sumber informasi: Akademi Crypto - JRZ |
Tak terasa sudah dua periode Ketua The Federal Reserve Jerome Powell memimpin bank sentral paling berpengaruh di dunia. Pekan ini, ia menghadiri rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir, pada Kamis (30/04) dini hari lalu.
Hal tersebut karena Powell akan berhenti menjabat secara resmi pada Jumat (15/05) mendatang. Sedangkan, jadwal FOMC bakal dilaksanakan kembali pada bulan Juni, sehingga bulan April ini menjadi hari terakhirnya menghadiri rapat tersebut.
Selama menjabat dari sejak 2018, terjadi beberapa peristiwa besar saat ia menjadi Ketua The Fed, antara lain pandemi Covid-19 yang membuatnya harus menurunkan suku bunga hingga ke level 0%–0,25% dan melakukan Quantitative Easing (QE) atau mencetak uang secara besar-besaran.
Kala itu, pasar crypto bereuforia. Sebab, market mengalami bull run imbas penurunan suku bunga yang membuat likuiditas membanjiri aset berisiko salah satunya crypto yang terjadi sekitar tahun 2020 hingga tahun 2021.
Lalu, antara tahun 2022 hingga 2023 Powell harus menaikan suku bunga secara drastis yang ditujukan untuk menstabilkan tingkat inflasi pasca pandemi. Saat itu, pasar crypto berdarah atau dikenal dengan crypto winter yang membuat harga-harga aset digital runtuh.
Menariknya, pada tahun yang sama tersebut, Powell akhirnya mengakui aset crypto sebagai kelas aset investasi yang mempunyai daya tahan atau pelindung nilai. Imbas ucapannya, pasar crypto sedikit bergairah dan mengalami lonjakan tipis.
Terakhir, pada rapat FOMC terakhirnya ia meninggalkan hadiah, yaitu menahan kembali suku bunga menjadi 3,50%–3,75% sebelum ia meninggalkan jabatannya. Hal ini berdampak pada pasar crypto yang mengalami stagnasi dan ditambah dengan ketidakstabilan geopolitik. Selamat pensiun Jay!